POLARIMETER
Ika Desianti, Haerani .T, Sasa Harkiah, A.Ardianti
Sulastri*
*)Mahasiswa pada
Jurusan Fisika Fak. Sains dan Teknologi
UIN Alauddin Makassar
Abstrak:
Telah dilakukan percobaan dengan judul polarimeter. Polarimeter adalah suatu acara analisa yang didasarkan pada pengukuran sudut putaran (optical rotation)
cahaya terpolarisis oleh senjawa yang transparan dan optis aktif apabila
senyawa tersebut dilewati sinar monokrotis yang terpolarisis tersebut ,
polarimeter adalah polaroid yang dapat menganalisa / mempolarisasikan cahaya.
Percobaan ini bertujuan untuk memahami teori dan rumus yang berhubungan dengan
praktikum polarimeter, mengetahui nama dan kegunaan alat-alat yang digunakan
pada percobaan polarimeter, menghitung daya putar spesifik dari suatu larutan optik
aktif dan menarik kesimpulan dari seluruhan percobaan polarimeter. Alat dan
bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu polarimeter satu set, sumber
cahaya monokromatis, tabung pemutar, gelas ukur, neraca digital, gula pasir
sebagai sampel, aquades, tissue dan lap kasar
Kata Kunci : Cahaya, Polarisasi, Optik, Sifat Optik Aktif, Terpolarisasi Linier,
Terpolarisasi ellips dan Terpolarisasi lingkaran.
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Cahaya putih
merupakan cahaya polikromatik yang terdiri berbagai panjang gelombang yang
dapat bervibrasi kesegala arah. Cahaya putih dapat diubah menjdi cahaya
monokromatik (hanya terdiri dari satu panjang gelombang) dengan menggunakan suatu filter atau sumber
cahaya yang khusus. Cahaya monokromatik ini disebut cahaya terpolarisasi.
Peristiwa
polarisasi tidak dapat diamati secara langsung oleh mata manusia, sehingga
diperlukan suatu alat yang dapat membantu untuk menunjukkan gejala polarisasi
tersebut. Melalui polarimeter gejala polarisasi dapat ditunjukan, selain itu
melalui alat ini dapat
Polarimetri
adalah suatu cara analisa yang didasarkan pada pengukuran sudut putaran
(optical rotation) cahaya terpolarisir oleh senyawa yang transparan dan optis
aktif apabila senyawa tersebut dilewati sinar monokromatis yang terpolarisir tersebut.
Adapun yang dimaksud cahaya terpolarisasi adalah cahaya yang menpunyai satu
arah getar dan arah getar itu berada tegak lurus terhadap arah rambatnya. Bahan
optic aftik merupakan bahan yang bila dijatuhi cahaya maka bidang polarisasi
dapat berputar. Zat yang memiliki sifat optic aktif ditandai dengan adanya
kandungan atom karbon simetris atau susunan atom C berupa Kristal dan berada
didalam senyawa organic. Pada Polarimeter
terdapat polarisator dan
analisator. Polarisator adalah
Polaroid yang dapat
mempolarisasi cahaya, sedangkan
anlisator adalah Polaroid yang dapat menganalisa/mempolarisasikan
cahaya. Polarimeter dapat
digunakan untuk mengukur
berbagai sifat optis suatu material,
termasuk bias-ganda linier,
bias-ganda lingkar (juga mengenal sebagai
putar optis atau
dispersi putar berhubung
dengan mata), dikroisme linier, dikroisme lingkar dan menyebar (Safru,
2009).
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian diatas maka permasalahan yang dikaji dalam kegiatan eksperimen ini
adalah :
1. Bagaimana
teori dan rumus yang berhubungan dengan praktikum polarimeter?
2.
Apa nama dan kegunaan
alat-alat yang digunakan pada percobaan polarimeter?
3.
Bagaimana cara
menghitung daya putar spesifik dari suatu larutan optik aktif?
4.
Bagaimana kesimpulan
dari keseluruhan percobaan polarimeter?
C.
Tujuan Percobaan
Tujuan yang dicapai dalam praktikum ini
adalah :
1.
Memahami teori dan
rumus yang berhubungan dengan praktikum polarimeter.
2.
Mengetahui nama dan
kegunaan alat-alat yang digunakan pada percobaan polarimeter.
3.
Menghitung daya putar
spesifik dari suatu larutan optik aktif.
4.
Menarik kesimpulan dari
keseluruhan percobaan polarimeter
D.
Ruang Lingkup
Percobaan ini akan membahas tentang
teori dan rumus yang berhubungan dengan praktikum polarimeter, nama dan
kegunaan alat-alat yang digunakan pada percobaan polarimeter, menghitung daya
putar spesifik dari suatu larutan optik aktif dan menarik kesimpulan dari
keseluruhan percobaan polarimeter.
E.Manfaat
Percobaan
Manfaat yang dapat diperoleh dalam
percobaan ini adalah Memberikan
informasi kepada mahasiswa tentang teori dan rumus yang berhubungan dengan
praktikum polarimeter, nama
dan kegunaan alat-alat yang digunakan pada percobaan polarimeter, cara Menghitung daya
putar spesifik dari suatu larutan optik aktif, mengenai kesimpulan dari keseluruhan
percobaan polarimeter.
II. Tinjauan Pustaka
A. Polarimeter
Polarisasi oleh
refleksi telah ditemukan pada
1808 oleh Etienne malus (1775-1812). Malus, yang telah
melakukan percobaan pembiasan ganda bekerja pada saat bekerja
pada teori efek,
mengamati dari pengaturan cahaya matahari, tercermin dari jendela
yang dekat jendela,
melalui kristal dari Islandia Spar. Seperti dia diputar kristal, kedua
gambar matahari bergantian menjadi lebih kuat dan lebih
lemah, tetapi tidak pernah ada pemadaman lengkap. Hampir
sekaligus dia berulang
percobaan dikontrol kondisi
dibawah, dan menemukan
bahwa sudut yang
lengkap pemadaman yang tercermin ray adalah untuk memperoleh
air dan kaca.Polarimeter adalah perangkat untuk belajar yang transparan sampel
antara crossed polarizing perangkat.
Jean-Baptiste Biot (1774-1862)
mengembangkan polarimeter di sebelah
kanan, yang dibuat oleh Soliel / ca Duboscq Paris. 1850. 1850, Polarizer yang
di sisi kanan
menggunakan satu piring,
dari kaca, sementara di
sebelah kiri analyzer
menggunakan timbunan dari
kaca piring. Sampel dilaksanakan antara kedua perangkat.Ini adalah
aparat di Dartmouth College (Kopkar, 1990).
Polarisasi
merupakan proses mengurung vibrasi vector yang menyusun gelombang transversal
menjadi satu arah. Dalam radiasi tak terkutubkan, vector gelomangang cahaya ke
satu arah. Dalam cahaya tak terpolarisasi, medan listrik bervibrasi ke semua
arah, tegak lurus pada arah perambatan. Sesudah dipantulkan atau ditransmisikan
melalui zat tertentu, maka medan listrik terkurung ke satu arah dan radiasi
dikatakan sebagai cahaya terkutub bidang. Dimana polarimeter merupakan alat
yang didesain untuk mempolarisasikan cahaya dan kemudian mengatur sudut rotasi
bidang polarisasi cahaya oleh suatu senyawa aktif optis yang prinsip kerjanya
didasarkan pada pemutaran bidang polarisasi.( Wikipedia 2014)
Menurut
Wikipedia (2014), jenis-jenis polarimeter yaitu :
1. Polarimeter Manual
Polarimeter palaing awal,
mulai dikembangkan pada tahun 1830-an, membutuhkan pengguna secara fisik
seperti memutar analyzer, dan detector ini mata pengguna menilai saat yang
paling bersinar cahaya melalui. Sudut ditandai pada skala yang mengelilingi
analyzer tersebut. Desain dasar masinh digunakan dalam polarimeter sederhana.
2. Polarimeter Semi Otomatis
Ada juga polarimeter
semi-otomatis, yang membutuhkan deteksi visual tetapi push menggunakan tombol
untuk memutar analisa dan menawarkan tampil digital.
3. Polarimeter Otomatis
merupakan polarimeter yang paling modern yang sepenuhnya otomatis dan hanya memerlukan user untuk menekan tombol dan menggunakan pembacaan digital. Polarimeter dapat dikalibrasi atau setidaknya diverifikasi dengan mengukur piring kuarsa, yang dibangun untuk selalu mebaca di sudut rotasi tertentu (biasanya 34 °, tetapi +17 ° dan 8,5 ° adalah juga populer tergantung pada sampel) . piring Quartz yang disukai oleh banyak pengguna karena contoh padat jauh lebih sedikit dipengaruhi oleh variasi suhu, dan tidak perlu dicampur on-demand seperti solusi sukrosa.
merupakan polarimeter yang paling modern yang sepenuhnya otomatis dan hanya memerlukan user untuk menekan tombol dan menggunakan pembacaan digital. Polarimeter dapat dikalibrasi atau setidaknya diverifikasi dengan mengukur piring kuarsa, yang dibangun untuk selalu mebaca di sudut rotasi tertentu (biasanya 34 °, tetapi +17 ° dan 8,5 ° adalah juga populer tergantung pada sampel) . piring Quartz yang disukai oleh banyak pengguna karena contoh padat jauh lebih sedikit dipengaruhi oleh variasi suhu, dan tidak perlu dicampur on-demand seperti solusi sukrosa.
Menurut Wikipedia (2014), Hal-hay yang dapat
mempegaruhi sudut putar suatu larutan adalah sebagai berikut :
1. Jenis zat, Masing-masing zat menberikan sudut putaran
yang berbeda terhadap bidang sinar terpolarisir
2. Panjang lajur larutan dan panjang tabung, Jika lajur
larytan diperbesar maka putarannya juga semakin besar.
3. Suhu, Makin tinggi suhu maka sudut putarannya makin
kecil, hal ini disebabkan karena zat akan memuai dengan naiknya suhu sehingga
zat yang berada dalam tabung akanberkurang.
4. Konsentrasi zat, konsentrasi sebanding dengan sudut
putaran, jika konsentrasi dinaikkan maka putarannya semakin besar.
5. Jenis sinar (panjang gelombang ), pada panjang
gelombang yang berbeda zat yang sama mempunyai nilai putaran yang berbeda.
6. Pelarut, Zat yang sama mempunyai nilai putaran yang
berbeda dalam pelarut yang berbeda.
B. Prinsip Kerja Polarimeter
Menurut Wikipedia (2014) prinsip kerja polarimeter
adalah sebagai berikut :
1. Sinar monokromatis dari sumber cahaya (lampu natrium)
akan melewati lensa kolimator sehingga berkas sinaar yang dihasilkan akan
disejajarkan arah rambatnya.
2. Dari lensa terus kepolarisator untuk mendapatkan
berkas cahaya yang terpolarisasi.
3. Cahaya terpolarisasi ini akan terus ke prisma ½ nicol
untuk mendapatkan bayangan gelap dan terang, kemudian melewati larutan senyawa
optic aktif yang berada dalam tabung polarimeter
Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan ke dalam suatu zat optis aktif seperti
gula, maka cahaya itu akan dibelokkan. Kalau cahaya tersebut dilewatkan ke
dalam air murni kita melihat cahaya tersebut diteruskan, artinya air tidak
dapat memutar bidang cahaya terpolarisasi. Zat optis aktif ditandai oleh adanya
atom karbon tak setangkap (asimetri-tak simetri) atau kiral di dalam senyawa
organik. Besarnya sudut perputaran cahaya terpolarisasi dapat diukur
denganpolarimeter dan harganya dipengaruhi oleh konsentrasi zat optis aktif.
Hubungan antara konsentrasi dan besar sudut putar dirumuskan sebagai dengan merupakan perputaran (rotasi) jenis pada suhu
(T) dan panjang gelombang (l) tertentu, α menyatakan panjang larutan yang dilewati cahaya, dan c
menyatakan konsentrasi. Dari rumusan ini kita peroleh jenis dan jumlah zat
optis aktif (Sumarna, 1990).
Rotasi spesifik didefinisikan sebagai, dimana α adalah sudut pada bidang
cahaya terpolarisasi dirotasi oleh larutan dengan konsentrasi c gram zat terlarut per mL larutan. Pada suatu bejana
dengan panjang d desimeter. Panjang gelombang yang umumnya dispesifikkan adalah
590 nm, berupa garis spectrum natrium (Kopkar, 1990).
C. Bagian-Bagian
Polarimeter
Komponen - komponen alat polarimeter adalah Sumber cahaya monokromatis, yaitu sinar yang dapat
memancarkan sinar monokromatis. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah
lampu D Natrium dengan panjang gelombang 589,3 nm. Selain itu juga dapat
digunakan lampu uap raksa dengan panjang gelombang 546 nm. Polarisator dan analisator. Polarisator berfungsi untuk menghasilkan sinar
terpolarisir. Sedangkan analisator berfungsi untuk menganalisa sudut yang
terpolarisasi. Yang digunakan sebagai polarisator dan analisator adalah prisma
nikol. Prisma setengah nikol merupakan alat untuk menghasilkan bayangan setengah
yaitu bayangan terang gelap dan gelap
terang. Skala lingkar merupakan skala yang bentuknya melingkar dan pembacaan
skalanya dilakukan jika telah didapatkan pengamatan tepat baur-baur. Wadah sampel ( tabung polarimeter ). Wadah sampel ini berbentuk silinder
yang terbuat dari kaca yang tertutup dikedua ujungnya berukuran besar dan yang
lain berukuran kecil, biasanya mempunyai ukuran panjang 0,5 ; 1 ; 2 dm. Wadah
sampel ini harus dibersihkan secara hati-hati dan tidak bileh ada gelembung
udara yang terperangkap didalamnya. Detektor. Pada polarimeter
manual yang digunakan sebagai detektor adalah mata, sedangkan polarimeter lain
dapat digunakan detektor fotoelektrik (Matsjeh, 1983).
III.
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Sabtu / 19 November 2016 Pukul: 13.00 – 13.00 WITA di Laboratorium Optik Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
B.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan Bahan yang digunakan dalam penilitian ini
yaitu polarimeter satu set (berfungsi sebagai alat untuk
mengukur sudut putar spesifik suatu larutan), Spatula (berfungsi sebagai
pengaduk larutan), sumber cahaya monokromatis (berfungsi sebagai sumber cahaya),
tabung pemutar (berfungsi untuk memfokuskan sumber cahaya larutan yang akan
diamati), gelas ukur (berfungsi sebagai wadah untuk mengukur konsentrasi
lautan), neraca digital (berfungsi sebagai alat untuk mengukur massa gula),
gula pasir (berfungsi sebagai sampel yang terlarut), aquades (berfungsi sebagai
sampel pelarut), tissue dan lap kasar (berfungsi untuk membersihkan alat).
C.
Prosedur Percobaan
Prosedur dalam percobaan
ini yaitu :
Gambar III.1 (Prosedur Percobaan Polarimeter)
1.
Membuat larutan gula
dengan konsentrasi masing-masing 0,05 gr/ml,
0,10 gr/ml dan 0,15 gr/ml. Memperhatikan cara melarutkan gula setelah
gula larut semua barulah ditambahkan dengan pelarut sampai volume yang telah
ditentukan.
2.
Mencuci sebersih
mungkin tabung pemutar, mengisi dengan aquades dan memasukkan ke dalam
polarimeter. Menjaga agar bagian luar tabung terutama pada bagian ujungnya.
3.
Menentukan titik
setimbang polarimeter dan mencatat kedudukannya. Mengulangi pengamatan ini beberapa kali.
4.
Mengosongkan tabung
pemutar dan mengganti isinya dengan larutan gula (konsentrasi 0,10 gr/ml).
Kemuadian tabung ini dimasukkan ke polarimeter. Setelah itu, memutar-mutar
analisator hingga kedudukan setimbang diperoleh lagi. Mencatat kedudukan ini
dan mengulangi sebanyak 3 kali.
5.
Mengulangi percobaan
poin 2 s/d 4 untuk larutan-larutan dengan konsentrasi lainnya.
6.
Membuat tabel
pengamatan kemudian mencatat dan memasukkan data-data yang sudah diperoleh ke
dalam tabel pengamatan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
Kosentrasi
5 %
l
= 10 cm
No
|
Peristiwa
|
θ₁
|
θ₂
|
θ₃
|
rata-rata thetha
|
1
|
Terang
|
9.26
|
4.04
|
7.38
|
6.893333333
|
2
|
Gelap
|
0.04
|
6.77
|
2.08
|
2.963333333
|
3
|
Gelap terang gelap
|
7.35
|
9.39
|
0.054
|
5.598
|
4
|
Terang gelap
terang
|
10.1
|
5.67
|
7.76
|
7.843333333
|
total rata-rata
|
5.8245
|
l= 20 cm
No
|
Peristiwa
|
θ₁
|
θ₂
|
θ₃
|
rata-rata thetha
|
1
|
Terang
|
3.4
|
9.72
|
4.88
|
6
|
2
|
Gelap
|
3.12
|
5.17
|
5.18
|
4.49
|
3
|
Gelap terang gelap
|
3.24
|
0.2
|
9.36
|
4.266666667
|
4
|
Terang gelap
terang
|
10.11
|
10.17
|
10.16
|
10.14666667
|
total rata-rata
|
6.225833333
|
Konsentrasi 10 %
L=10 cm
No
|
Peristiwa
|
θ₁
|
θ₂
|
θ₃
|
rata-rata thetha
|
1
|
Terang
|
7.77
|
2.89
|
2.19
|
4.283333333
|
2
|
Gelap
|
4.14
|
4.65
|
10.27
|
6.353333333
|
3
|
Gelap terang gelap
|
9.37
|
10.43
|
6.25
|
8.683333333
|
4
|
Terang gelap
terang
|
9.1
|
0.5
|
7.54
|
5.713333333
|
total rata-rata
|
6.258333333
|
Konsentrasi 15 %
L= 10 cm
No
|
Peristiwa
|
θ₁
|
θ₂
|
θ₃
|
rata-rata thetha
|
1
|
Terang
|
6.96
|
3.2
|
10.03
|
6.73
|
2
|
Gelap
|
3..16
|
7.24
|
3.16
|
4.52
|
3
|
Gelap terang gelap
|
2.36
|
0.8
|
6.3
|
3.153333333
|
4
|
Terang gelap
terang
|
8.6
|
6.4
|
9.15
|
8.05
|
total rata-rata
|
5.613333333
|
IV.2 Analisi Data
Menentukan daya putar spesifik
Ɵ =
Ɵ = Sudut Putar Larutan (o)
= Panjang
Tabung (dm)
= Konsentrasi
Larutan (gr/cc)
a.
Konsentrasi 5% dengan l = 10 cm
α1 = = =1,852
α2 = = = 808
α3 = = = 1,476
α4 = = = 8
α5 = = = 1,354
α6 = = = 416
α7 = = = 1,470
α8 = = = 1,878
α9 = = = 10,8
α10 = = = 2,020
α11 = = =1,134
α12 = = = 1,552
Rata-rata α = = 349,726
b.
Konsentrasi 5% dengan l = 20 cm
α1 = = = 340
α2 = = = 972
α3 = = = 488
α4 = = = 312
α5 = = = 517
α6 = = = 518
α7 = = = 324
α8 = = = 20
α9 = = = 936
α10 = = = 1,011
α11 = = = 1,017
α12 = = = 1,016
Rata-rata α = = 343,670
c.
Konsentrasi 10% dengan l = 10 cm
α1 = = = 777
α2 = = = 289
α3 = = = 219
α4 = = = 414
α5 = = = 465
α6 = = = 1027
α7 = = = 937
α8 = = = 1043
α9 = = = 625
α10 = = = 910
α11 = = = 50
α12 = = = 754
Rata-rata α = = 571,83
d.
Konsentrasi 15% dengan l = 10 cm
α1 = = = 464
α2 = = = 213.3
α3 = = =668.7
α4 = = = 204
α5 = = = 482,7
α6 = = = 204
α7 = = = 157,3
α8 = = =53,3
α9 = = = 420
α10 = = = 573,3
α11 = = = 426,6
α12 = = = 620
Rata-rata α
= = 368,933
IV.3 Grafik
IV.3.1 Grafik 4.1 Hubungan antara panjang
tabung(l) dengan daya putar spesifik(°).
panjang
tabung
|
sudut putar (α)
|
10
|
564.197
|
20
|
314.614
|
IV.3.2 Grafik 4.2
Hubungan antara Konsentari larutan(gr/cc) dengan daya putar spesifik(°).
Konsentari larutan(gr/cc)
|
Daya
putar spesifik(°).
|
||
5
|
|
||
10
|
|
||
15
|
|
IV.3.3 Grafik 4.3
Hubungan antara Peristiwa dengan Rata-rata theta(θ).
No.
|
Peristiwa
|
Rata-rata theta
|
1
|
terang
|
6.73
|
2
|
gelap
|
4.52
|
3
|
gelap terang gelap
|
8.05
|
4
|
terang gelap terang
|
3.153333
|
IV.4 Pembahasa
Pada percobaan ini, kita menpelajari dan memahami
tentang polarimeter. Polarimeter adalah suatu metode analisa kimia berdasarkan
atas pengukuran daya putar optis dari suatu senyawa optis aktif terhadap sinar
yang terpolarisir. Senyawa terpolarisir yaitu suatu senyawa yang dapat memutar
bidang getar terpolarisasi.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui besarnya
sudut putar larutan glukosa pada konsentrasi
5%,10%, dan 15%. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan
polarimeter.larutan blakon yang digunakan adalah aquades, sedangkan larytan
sampel yang digunakan adalah glukosa. Hai ini karena glukosa merupakan senyawa
optic aktif karena memiliki atam c kiral sehingga dapat memutar bidang polarisasi
pada percobaan pertama
dilakukan pengambilan data dengan menggunakan aquades konsentrasi 5 % dan l =
10 cm.ditemukan nilai rata-rata dari sudut putarnya adalah 5.824dan daya putar
rata-rata adalah 585.218. Percobaan kedua dengan menggunakan sampel yang sama yaitu
konsentrasi 5% dan l = 20 cm dimana pada
aquades dicampurkan dengan gula sehingga memiliki konsentrasi 10% dan ditemukan
sudut rata-rata yaitu 6.2258dan daya putar rata-rata adalah 625.906 . dan pada
percobaan ketiga dengan konsentrasi 10%, sehingga ditemukan nilai sudut
rata-rata yaitu 6.258
dan daya putar rata-rata
yaitu 628.740 , pada ke empat digunakan gula sebagai sampel yang sama dengan
konsentrasi sebelumnya dengan menggunakan konsentrasi 15% sehingga ditemukan
sudut rata-rata adalah 5.6133 dan daya putar rata-rata
adalah 564.197.
Pada analisis grafik terdapat penunjukkan data yang tidak konstan mengalami
kenaikan seperti grafik hubungan peristiwa dan rata-rata theta, kesalahan pada
grafik tersebut diakibatkan oleh kesalahan pengamat pada saat mengambil data.
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa konsentrasi dan jenis larutan akan mempengaruhi sudut
putar tergantung dari besarnya sudut putar jenis larutan tersebut. Pada saat
konsentrasi gula semakin tinggi, maka cahaya yang terlihat di analisator
menjadi lebih redup. Sehingga sudut putar jenisnya pun menjadi semakin besar.
Ini menendakan larutan gula dapat membelokan arah getar cahaya.
V.
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Polarimeter adalah suatu alat
yang tersusun atas polarisator dan analisator. Polarimeter adalah polaroid yang
dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan analisator adalah polaroid yang dapat
menganalisa/ mempolarisasikan cahaya. Menganalisa/mempolarisasikan cahaya.
Polarimeter adalah suatu metode analisa yang berdasarkan pada pengukuran daya
putaran optis dari suatu larutan. Daya putaran optis adalah kemampuan suatu zat
untuk memutar bidang getar sinar terpolairsir. Sinar terpolarisir merupakan
suatu sinar yang menpunyai satu arah bidang getar dan arah tersebut tegak lurus
terhadap arah rambatnya. Rumus yang digunakan yaitun :
Dimana Ɵ = Sudut Putar Larutan (o), = Panjang
Tabung (dm) dan
= Konsentrasi
Larutan (gr/cc)
2.
Alat dan bahan yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu : polarimeter satu set (berfungsi
sebagai alat untuk mengukur sudut putar spesifik suatu larutan), Spatula
(berfungsi sebagai pengaduk larutan), sumber cahaya monokromatis (berfungsi
sebagai sumber cahaya), tabung pemutar (berfungsi untuk memfokuskan sumber
cahaya larutan yang akan diamati), gelas ukur (berfungsi sebagai wadah untuk
mengukur konsentrasi lautan), neraca digital (berfungsi sebagai alat untuk
mengukur massa gula), gula pasir (berfungsi sebagai sampel yang terlarut),
aquades (berfungsi sebagai sampel pelarut), tissue dan lap kasar (berfungsi
untuk membersihkan alat).
3. Cara menghitung daya putar
spesifik yang digunakan rumus :
4. Kesimpulan dari keseluruhan
percobaan polarimeter yaitu konsentrasi dan jenis larutan akan mempengaruhi
sudut putar tergantunh dari besarnya sudut putar jenis larutan tersebut. Pada
saat konsentrasi gula semakin teinggi, maka cahaya yang terlihat dianalisator
menjadi lebih redup. Sehingga sudut putar jenisnya menjadi semakin besar. Ini
menandakan larutan gula dapat membelokan arah getar cahaya.
A.
Saran
Saranyang dapat disampaikan pada percobaan ini adalah
sebaiknya pada praktikum selanjutnya larutan optic aktif yang digunakan bukan
hanya larutan gula saja sehingga ada perbandingan antarasampel optic aktif dan
yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ismono. 1983. Cara-Cara Optik Dalam Analisa Kimia.
Bandung : Departemen Kimia ITB.
Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press
Matsjeh, Sabirin. 1983. Kimia Organik II. Jogjakarta : UNJ
Wikipedia.2014. Polarimeter.
http://www.wikipwdia.org/wiki/polarimeter diakses pada 20 november 2016
As a global Contract Research Organization (CRO), headquartered in New York, USA, Alfa Chemistry has served the pharmaceutical and biotechnology industries for eight years. Instrument Support
BalasHapus